KISAH INDAH PERNIKAHAN ABU WADA'AH
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
: ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪ
Selamat Malam
Good Night
“Sesungguhnya putriku ini adalah amanah di pundakku dan aku
berusaha mencari untuk kebaikan urusannya
pada apa yang telah aku perbuat.”
Atas alasan itulah Said Bin Musayyib menolak pinangan Amirul Mukminin dan menikahkan putrinya dengan orang kalangan biasa dari kaum muslimin.
Abdullah bin Abu Wada’ah dalam beberapa riwayat sering disebut
Abu Wada’ah, dia berguru kepada Said Bin Musayyib,
seorang tokoh ulama dari generasi tabi’in bernasab langsung ke Bani Mahzhum.
Seorang ulama yang selalu berpuasa di siang hari,
bangun di tengah malam.
Menunaikan haji sekitar empat puluh kali.
Sejak empat puluh tahun tidak pernah terlambat dari takbir pertama
di masjid Nabawi dan
Ia selalu menjaga untuk berada di shaf pertama.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan kelapangan rezeki,
Dia bisa menikah dengan siapa saja yang Ia kehendaki dari wanita bangsawan Quraisy,
Namun ia lebih memilih putri Abu Hurairah Radhiallahu anhu
dari seluruh para wanita.
Yang demikian itu karena kedudukannya dari
Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam
dan keluasan riwayatnya terhadap hadits serta raghbah-nya (keinginannya) yang begitu besar dalam mengambil hadits darinya.
Ia telah mendedikasikan dirinya untuk ilmu semenjak kecil.
Ia belajar dengan istri-istri Nabi Shallallahu `alaihi Wa Sallam
dan mengambil manfaat dari mereka.
Berguru kepada
Zaid ibn Tsabit Radhiallahu anhu,
Abdullah ibn Abbas Radhiallahu anhu dan
Abdullah ibn Umar Radhiallahu anhu.
Dan juga mendengar dari
Utsman Radhiallahu anhu,
Ali Radhiallahu anhu dan
Shuhaib Radhiallahu anhu serta
sahabat Nabi mulia Shallallahu `alaihi Wa Sallam yang lainnya.
Said Bin Musayyib
adalah seorang guru yang memiliki keteladanan yang tinggi.
Beliau memiliki dan memimpin sebuah majelis ilmu (halaqah) yang cukup besar di Masjid Nabawi Madinah,
di samping halaqah-halaqah yang lain yang ada di masjid itu,
seperti halaqahnya
‘Urwah bin Zubair Radhiallahu anhu, dan
Abdullah bin ‘Utbah Radhiallahu anhu.
Abu Wada’ah termasuk seorang murid yang setia,
Dia tidak pernah absen setiap kali sang guru mengajar.
Makanya sewaktu Abu Wada‘ah tidak datang ke majelis halaqahnya beberapa kali, tentu saja Said Bin Musayyib merasa kehilangan murid setianya ini.
Beliau merasa khawatir kalau-kalau ketidakhadirannya disebabkan
karena sakit atau karena ada masalah yang menimpanya.
Lalu beliau menanyakannya kepada murid-murid yang lainnya tentang keadaan Abu Wada’ah, tetapi mereka semua mengatakan tidak tahu.
Subuh itulah untuk pertama kalinya Abu Wada’ah menampakkan diri kembali di majelis sebagaimana biasa.
Maka sang guru Said Bin Musayyib segera menyambut kedatangannya dengan sapaan yang penuh perhatian.
“Ke mana saja engkau ya Aba Wada’ah?”
Sapa Sang Guru penuh perhatian
“Istriku meninggal dunia, sehingga aku sibuk mengurusinya,”
Jawabnya.
“Mengapa tidak memberitahu kami sehingga kami bisa menemanimu
dan mengantarkan jenazah istrimu serta membantu segala keperluanmu,”
Sang guru menunjukkan perhatiannya“
Terima kasih, jazaakallahu khairan,”
Jawab sang murid sambil menyembunyikan perasaannya yang
terkesan memang sengaja tidak memberi tahu karena khawatir merepotkan gurunya.
Dan ketika hendak beranjak pergi, sang guru menahannya.
Sampai ketika semua murid yang lainnya telah pulang.
Tidak berapa lama kemudian Said Bin Musayyib menghampiri Abu Wada’ah dan membisikan sesuatu kepadanya.
“Apakah engkau belum terpikir untuk mencari istri yang baru
ya Aba Wada’ah.”
Bisik sang Guru dengan penuh kehati-hatian untuk menjaga perasaan muridnya.
“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu,
siapa orangnya yang mau mengawinkan anak perempuannya dengan pemuda sepertiku yang sejak kecil yatim, fakir
dan hingga sekarang ini aku hanya memiliki dua sampai tiga dirham,” Tandas Abu Wada’ah yang tampaknya ingin bersikap realistis terhadap keadaan dirinya.
“Aku yang akan mengawinkanmu dengan anak perempuanku,”
Sang Guru menegaskan ucapannya.
Abu Wada’ah terkejut dan dengan terbata-bata menanggapi tawaran gurunya.
“Eng,…engkau akan mengawinkanku dengan anak perempuanmu,
padahal engkau tahu sendiri bagaimana keadaanku,”
Abu Wada’ah menanggapi setengah tidak percaya.
Beberapa saat kemudian keduanya terdiam,
Sang Guru sendiri tampak arif dan demikian memahami perasaan muridnya. Tak lama kemudian, Syaikh mengucapkan sebuah perkataan yang sama sekali tak diduga oleh Abu Wada’ah.
“Ya,…kenapa tidak, karena ketika telah datang seseorang yang aku ridha terhadap agamanya dan akhlaknya maka aku akan kawinkan anak perempuanku dengan orang itu,
dan engkau termasuk orang yang aku ridha”.
Tegas sang guru.
Padahal sebelum ini putri beliau pernah dilamar oleh
Al-Walid bin Hisyam bin Abdul Malik,
putra mahkota Dinasti Umayyah,
pada saat ayahnya Amirul Mu’minin Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan menjadi khalifah.
Said Bin Musayyib menolak lamaran khalifah yang ingin menjodohkan putrinya dengan putera mahkotanya.
Putri Syaikh Said sendiri adalah salah seorang perempuan tercantik dan sempurna, seorang puteri yang paling mendalam ilmunya tentang Al-Quran dan Sunnah.
Akan tetapi meskipun yang melamar anaknya adalah putra mahkota,
Said Bin Musayyib tidak canggung menyampaikan permintaan maafnya karena menolak lamarannya.
Keluarga istana Dinasti Umayyah tetap berusaha keras untuk dapat mempersunting putrinya itu, namun Said Bin Musayyib tetap tak bergeming, karena ia mengetahui bahwa Al-Walid adalah pemuda yang banyak melakukan dosa dan lemah agamanya.
Dan pilihannya jatuh pada salah seorang murid majelis halaqahnya.
Ia bukanlah seorang kaya, apalagi keturunan bangsawan, bahkan hanya seorang pemuda yatim yang berstatus duda dari wilayah Hayna.
Tak berapa lama kemudian,
Said Bin Musayyib memanggil beberapa orang muridnya yang
kebetulan masih berada di dalam masjid.
Ketika mereka ada di dekatnya, saat itu juga Said Bin Musayyib mengucapkan lafadz hamdalah dan shalawat atas Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam
lalu disebutlah lafadz akad nikah antara putrinya dan Abu Wada’ah. Maharnya adalah uang senilai dua dirham.
Berbagai perasaan gembira, haru, bingung bercampur dalam hati Abu Wada’ah.
Setelah selesai acara ‘aqad nikah yang sangat sederhana itu,
ia segera pamit pulang ke rumahnya.
“Siang itu sebenarnya aku tengah puasa,
tapi peristiwa itu menjadikan aku hampir lupa dengan puasaku…”
Ungkap Abu Wada’ah dalam hati.
Sementara di tempat lain Said Bin Musayyib setelah menyelesaikan
prosesi akad nikah di Masjid Nabawi tadi,
beliau kemudian pulang ke rumahnya dan mendapati putrinya tengah membaca Al-Qur’an.
"Apa yang sedang engkau lakukan wahai putriku?”
“Aku sedang membaca kitabullah wahai ayah…..”
“Apakah engkau memahaminya?”
“Ya, duhai ayahku.
Tetapi, ada satu ayat yang aku belum bisa memahaminya sama sekali.”
“Ayat apakah itu wahai putriku?”
tanya sang ayah dengan penuh keheranan.
“Yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
'Dan di antara mereka ada orang yang berdoa,
‘Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan
juga di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa neraka’.’
(Al-Baqarah : 201)
" Wahai ayahku, aku telah mengetahui bahwa kebaikan akhirat adalah jannah, lalu apakah yang dimaksud dengan kebaikan dunia?”
Sang ayah kemudian menjelaskan dengan penuh hangat,
“Wahai putriku, kebaikan dunia adalah ketika seorang istri yang shalihah mendapatkan suami yang shalih.
Hari ini Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan nikmat kepadamu dengan seorang suami yang shalih, maka bersiaplah untuk memasuki malam pertama bersamanya….”
Di rumahnya Abu Wada’ah belum tuntas menikmati sajian bukanya
berupa satu atau dua potong roti, tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu rumahnya.
Kemudian dia berdiri untuk membuka pintu.
“Siapa di luar…?” tanya Abu Wada’ah.
“Saya Said,“ Jawab suara dari luar
Suara itu segera dikenalnya,
yang tidak lain adalah Said Bin Musayyib.
Ada apa gerangan?
Tetapi, ketika dibuka pintu rumahnya, ternyata imam Said datang bersama putrinya yang telah memakai gaun pengantin
“Apa yang membuat Anda tergesa-gesa datang kemari wahai Syaikh?”
Abu Wada’ah pun bertanya kepada sang imam.
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala membenci jika salah seorang di antara kita bermalam tanpa memiliki istri.
Sehingga, setan tidak mengganggunya wahai Abu Wada‘ah.
Inilah aku bawakan istrimu, semoga engkau diberkahi dengannya, dan semoga ia juga mendapatkan barakah denganmu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam naungan kebaikan.”
Kemudian Said Bin Musayyib meninggalkan putrinya di rumah Abu Wada’ah.
Setelah berlalu masa sepekan dari pernikahannya,
diapun kemudian meminta ijin kepada istrinya untuk keluar.
“Hendak ke mana duhai suamiku?”
“Hendak menghadiri majelis ilmu Said Bin Musayyib….”
“Duduklah di sini saja duhai suamiku.
Akan aku ajarkan kepadamu ilmu Said Bin Musayyib….”
Istrinya berkata dengan penuh hangat,
Lantas, Abu Wada’ah pun duduk bersamanya mengkaji ilmu agama.
Suatu waktu,
Said Bin Musayyib menengok keadaan Abu Wada’ah dan istrinya.
“Mengapa sekarang engkau tak lagi menghadiri halaqah wahai Abdullah?”
“Karena aku telah mendapati pada putri Said ilmunya Said,”
Jawab Abdullah.
♡Semoga bermanfaat
♡Silahkan share
Sumber:
📙 Shuwarun Min Hayaati at-Taabi’iin
oleh Dr Abdurrahman Ra`fat al-Basya dan
📙 Al-Mukhtâr min qishasil Akhyâr
oleh Musthafa Syaikh Ibrahim Haqqi.
Kunjungi http://www.myislam.id/ untuk artikel bermanfaat lainnya.
0 Comments