Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
: ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪ
Selamat Malam
Good Night
Kisah Amirul Mukminin Umar bin Khattab Radhiallahu anhu
Suatu hari, Umar Radhiallahu anhu sedang duduk
di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi.
Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.
Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda.
Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.
Ketika sudah berhadapan dengan Umar Radhiallahu anhu,
kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"
🔪
"Qishashlah pembunuh ayah kami
sebagai had atas kejahatan pemuda ini !".
🔪
Umar Radhiallahu anhu segera bangkit dan berkata :
"Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
"Benar, wahai Amirul Mukminin."
"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.",
tukas Umar Radhiallahu anhu .
Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :
"Aku datang dari pedalaman yang jauh,
kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini.
Sesampainya aku di kota ini,
aku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta).
Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu.
Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku
dan kubunuh ia (lelaki tua tadi).
Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."
"Wahai, Amirul Mukminin,
Kau telah mendengar ceritanya,
kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.",
Sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Tegakkanlah had Allah Subhanahu wa Ta'ala atasnya!"
timpal yang lain.
Umar Radhiallahu anhu tertegun dan bimbang
mendengar cerita si pemuda lusuh.
"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya.
Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.
"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan
akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu",
lanjut Umar Radhiallahu anhu .
"Maaf Amirul Mukminin,"
Sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,
"Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".
Umar Radhiallahu anhu semakin bimbang,
Di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.
Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin,
tegakkanlah hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala,
laksanakanlah qishash atasku.
Aku ridha dengan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta'ala ",
ujarnya dengan tegas.
"Namun,
Izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku.
Berilah aku tangguh 3 hari.
Aku akan kembali untuk diqishash".
"Mana bisa begitu?",
Ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar Radhiallahu anhu .
"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?",
pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar Radhiallahu anhu.
🕘
"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari.
Tapi harus ada yang mau menjaminmu,
agar kamu kembali untuk menepati janji."
kata Umar Radhiallahu anhu .
"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini.
Hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala, hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala -lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.
Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
"Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".
Ternyata Salman al-Farisi Radhiallahu anhu yang berkata.
"Salman?"
hardik Umar Radhiallahu anhu marah.
"Kau belum mengenal pemuda ini,
Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".
"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya,
Yaa, Umar,
Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya",
jawab Salman Radhiallahu anhu tenang.
Akhirnya dengan berat hati,
Umar Radhiallahu anhu mengizinkan Salman Radhiallahu anhu
menjadi penjamin si pemuda lusuh.
Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
🕘
Hari pertama
Berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh.
Begitupun hari kedua.
Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali.
Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.
🕘
Hari ketiga pun tiba.
Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda,
dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman Radhiallahu anhu,
salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam.
yang paling utama.
🕘
Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh.
Umar Radhiallahu anhu berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya.
Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa
karena keingkaran janji si pemuda lusuh.
🕘
Akhirnya tiba waktunya penqishashan.
Salman Radhiallahu anhu dengan tenang dan
penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi.
Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti
Salman Radhiallahu anhu akan dikorbankan.
🏃
Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok,
jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
🏃
”Itu dia!” teriak Umar Radhiallahu anhu.
“Dia datang menepati janjinya!”.
🏃
Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal,
si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar Radhiallahu anhu.
🏃
”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..”
ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.
”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”
”Demi Allah”,
ujar Umar Radhiallahu anhu menenanginya dan memberinya minum,
“Mengapa kau susah payah kembali?
Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?”
tanya Umar Radhiallahu anhu.
”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan...
di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji...”
jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar Radhiallahu anhu berkaca-kaca,
sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman,
Mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"
Kemudian Salman Radhiallahu anhu menjawab :
" Agar jangan sampai dikatakan,
dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.
🌴
Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.
🌴
”Allahu Akbar!”,
Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.
🌴
“Saksikanlah wahai kaum Muslimin,
bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.
🌴
Semua orang tersentak kaget.
🌴
“Kalian...” ujar Umar Radhiallahu anhu.
“Apa maksudnya ini?
Mengapa kalian..?”
Umar Radhiallahu anhu semakin haru.
🌴
Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
”Agar jangan sampai dikatakan,
di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.
🌴
”Allahu Akbar!” teriak hadirin.
🌴
Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.
🌴
MasyaAllah...,
Saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al Islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..
Allahu Akbar…!
~Catatan :
Hukuman had adalah
hukuman yang telah ditentukan oleh syara’ dan
merupakan hak Allah Subhanahu wa Ta'ala.
♡Semoga bermanfaat
♡Silahkan share
📙 Sumber :
"KITAB KHALIFAH RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM"
"Syaikh S. Al Mubarakfury"
Kunjungi http://www.myislam.id/ untuk artikel bermanfaat lainnya.
0 Comments